Logo K3


Para Praktisi K3 di Indonesia tentunya sudah tidak asing lagi mengenal dan melihat logo atau lambang K3 di Indonesia di samping ini, Namun tahukah anda bahwa logo K3 tersebut sesungguhnya memiliki makna-makna yang terkandung didalamnya. Makna dan arti dari Logo K3 tersebut diatur didalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia (No: KEP.1135/MEN/1987) Tentang Bendera Keselamatan Dan Kesehatan Kerja.

Gambar yang terdapat pada logo K3 tersebut merupakan Palang Berwarna Hijau yang dilingkari dengan Roda Bergigi Sebelas Dengan Warna Hijau. Gambar tersebut sesungguhnya memiliki arti dan makna yang mendasar, yaitu:

Lambang dan Makna:

  • Palang yang berarti bebas dari kecelakaan dan sakit akibat kerja.
  • Roda gigi memiliki makna bekerja dengan kesegaran jasmani dan rohani.
  • Warna putih yang digunakan berarti bersih, suci.
  • Warna hijau yang digunakan memiliki makna selamat, sehat dan sejahtera.
  • Sedangkan sebelas gerigi roda adalah unsur-unsur 11 Bab dalam Undang-undang Keselamatan Kerja (UU/No.1/Th.1970).

Adapun untuk ketentuan-ketentuan lain mengenai detail dimensi bendera, logo dan lain sebagainya dapat dilihat pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia (No: KEP.1135/MEN/1987) Tentang Bendera Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Klik Disini

Sedangkan untuk mengetahui detail dari unsur-unsur 11 Bab, detailnya dapat dilihat pada Undang-Undang No.1 Tahun 1970 berikut Klik Disini

Di kutip dari http://2gk3undip.wordpress.com/pernak-pernik/

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)


PRINSIP-PRINSIP POKOK P3K

A. Pelaksanaan P3K, berupa:
1. Tindakan yang harus dilakukan segera dan selalu diarahkan untuk penyelamatan hidup, dan
2. Tindakan yang dapat dilakukan kemudian untuk pencegahan cacat dan menghindari kondisi korban memburuk

B. Tindakan yang Tak Boleh (Dilarang) dilakukan:
1. Tindakanyang akan membahayakan hidup
2. Tindakan yang memperburuk korban, atau
3. Tindakan yang dapat menimbulkan cacat di kemudian hari

C. Rencana Pertolongan harus mempertimbangkan bagaimana
1. Mempertahankan hidup korban, (periksa keadaan umum)
2. Mengurangi penderitaan (perlu diteliti keadaan lokal)
3. Mencegah pengotoran luka dan penderitaan lebih lanjut
4. Secepat mungkin mengirim korban kepetugas kesehatan setempat.

D. Urutan tindakan P3K pada umumnya:
1. Cari keterangan penyebab kecelakaan
2. Amankan korban dari tempat berbahaya.
3. Perhatikan keadaan umum korban.
4. Lakukan tindakan untuk mengatasi:
a. Gangguan pernafasan,
b. Gangguan Perdarahan
c. Gangguan kesadaran
e. Segera lakukan pertolongan yang lebih sempurna, dengan sarana yang tersedia
f.  Apabila korban sadar, langsung beritahukan dan tenangkan korban

(Sumber: Pedoman P3K-II, PMI,1990)

RASIO JUMLAH PETUGAS P3K DI TEMPAT KERJA
DENGAN JUMLAH PEKERJA/BURUH BERDASARKAN KLASIFIKASI TEMPAT KERJA

Klasifikasi Tempat Kerja.

Jumlah Pekerja/Buruh.

Jumlah petugas P3K.

Tempat kerja dengan potensi bahaya rendah.

25 – 150.

1 orang

> 150

1 orang untuk setiap 150 orang atau kurang.

Tempat kerja dengan potensi bahaya tinggi.

< 100

1 orang

> 100

1 orang untuk setiap 100 orang atau kurang.

ISI KOTAK P3K

No.

ISI

KOTAK A

(Untuk 25 pekeja/buruh atau kurang)

KOTAK B

(Untuk 50 pekerja/buruhatau kurang)

KOTAK C

(Untuk 100 pekerja/buruh atau kurang)

1.

Kasa steril terbungkus.

20

40

40

2.

Perban (lebar 5 Cm).

2

4

6

3.

Perban (lebar 10 Cm).

2

4

6

4.

Plester (lebar 1,25 Cm).

2

4

6

5.

Plester Cepat.

10

15

20

6.

Kapas (25 gram).

1

2

3

7.

Kain segitiga/mittela.

2

4

6

8.

Gunting.

1

1

1

9.

Peniti.

12

12

12

10.

Sarung tangan sekali pakai.

2

3

4

11.

(pasangan)

2

4

6

12.

Masker.

1

1

1

13.

Pinset.

1

1

1

14.

Lampu senter.

1

1

1

15.

Gelas untuk cuci mata.

1

2

3

16.

Kantong plastik bersih.

1

1

1

17.

Aquades (100 ml lar.Saline)

1

1

1

18.

Povidon Iodin (60ml)

1

1

1

19.

Alkohol 70 %.

1

1

1

20.

Buku panduan P3K di tempat kerja.

1

1

1

21.

Buku catatan.

Daftar isi kotak.

1

1

1

JUMLAH PEKERJA/BURUH, JENIS KOTAK P3K
DAN JUMLAH KOTAK P3K

Jumlah

Pekerja/Buruh

Jenis kotak P3K

Jumlah Kotak P3K

Tiap 1 (Satu) Unit Kerja.

Kurang dari 26

Pekerja/buruh

A

1 kotak A

26 s.d 50

Pekerja/buruh

B/A

1 kotak B atau,

2 kotak A.

51 s.d 100.

Pekerja/buruh

C/B/A

1 kotak C atau,

2 kotak B atau,

4 kotak A atau,

1 kotak B dan 2 kotak A.

Setiap 100

Pekerja/buruh.

C/B/A

1 kotak C atau,

2 kotak B atau,

4 kotak A atau,

1 kotak B dan 2 kotak A.

Keterangan :
1. 1 kotak B setara dengan 2 kotak A.
2. 1 kotak C setara dengan 2 kotak B.

P3K Permenaker No. PER.15 MEN VIII 2008 download

Job Safety Analysis


Salah satu cara untuk mencegah kecelakaan di tempat kerja adalah dengan menetapkan dan menyusun prosedur pekerjaan dan melatih semua pekerja untuk menerapkan metode kerja yang efisien dan aman. Menyusun prosedur kerja yang benar merupakan salah satu keuntungan dari menerapkan Job Safety Analysis (JSA) – yang meliputi mempelajari dan membuat laporan setiap langkah pekerjaan, identifikasi bahaya pekerjaan yang sudah ada atau potensi (baik kesehatan maupun keselamatan), dan menentukan jalan terbaik untuk mengurangi dan mengeliminasi bahaya ini.

JSA digunakan untuk meninjau metode kerja dan menemukan bahaya yang :

  • Mungkin diabaikan dalam layout pabrik atau bangunan dan dalam desain permesinan, peralatan, perkakas, stasiun kerja dan proses.
  • Memberikan perubahan dalam prosedur kerja atau personel.
  • Mungkin dikembangkan setelah produksi dimulai.

Pengertian Job Safety Analysis

JSA merupakan identifikasi sistematik dari bahaya potensial di tempat kerja yang dapat diidentifikasi, dianalisa dan direkam. Hal-hal yang dilakukan dalam penerapan JSA :

  • Identifikasi bahaya yang berhubungan dengan setiap langkah dari pekerjaan yang berpotensi untuk menyebabkan bahaya serius.
  • Menentukan bagaimana untuk mengontrol bahaya.
  • Membuat perkakas tertulis yang dapat digunakan untuk melatih staf lainnya.
  • Bertemu dengan pelatih OSHA untuk mengembangkan prosedur dan aturan kerja yang spesifik untuk setiap pekerjaan.

Keuntungan dari melaksanakan JSA adalah :

  • Memberikan pelatihan individu dalam hal keselamatan dan prosedur kerja efisien.
  • Membuat kontak keselamatan pekerja.
  • Mempersiapkan observasi keselamatan yang terencana.
  • Mempercayakan pekerjaan ke pekerja baru.
  • Memberikan instruksi pre-job untuk pekerjaan luar biasa.
  • Meninjau prosedur kerja setelah kecelakaan terjadi.
  • Mempelajari pekerjaan untuk peningkatan yang memungkinkan dalam metode kerja.
  • Mengidentifikasi usaha perlindungan ynag dibutuhkan di tempat kerja.
  • Supervisor dapat belajar mengenai pekerjaan yang mereka pimpin.
  • Partisipasi pekerja dalam hal keselamatan di tempat kerja.
  • Mengurangi absent.
  • Biaya kompensasi pekerja menjadi lebih rendah.
  • Meningkatkan produktivitas.
  • Adanya sikap positif terhadap keselamatan.

Mengembangkan Sebuah JSA

A. Memilih Pekerjaan

Pekerjaan dengan sejarah kecelakaan yang buruk mempunyai prioritas dan harus dianalisa terlebih dulu. Dalam memilih pekerjaan yang akan dianalisa, supervisor sebuah departemen harus memenuhi faktor berikut ini :

Frekuensi kecelakaan.

Sebuah pekerjaan yang sering kali terulang kecelakaan merupakan prioritas utama dalam JSA.

Tingkat cedera yang menyebabkan cacat.

Setiap pekerjaan yang menyebabkan cacat harus dimasukan ke dalam JSA.

Kekerasan potensi

Beberapa pekerjaan mungkin tidak mempunyai sejarah kecelakaan namun mungkin berpotensi untuk menimbulkan bahaya.

Pekerjaan baru

JSA untuk setiap pekerjaan baru harus dibuat sebisa mungkin. Analisa tidak boleh ditunda hingga kecelakaan atau hamper terjadi kecelakaan.

Mendekati bahaya

Pekerjaan yang sering hampir terjadi bahaya harus menjadi prioritas JSA.

B. Membagi Pekerjaan

Untuk membagi pekerjaan, pilihlah pekerja yang benar untuk melakukan observasi. Pilihlah pekerja yang berpengalaman, mampu dan kooperatif sehingga mampu berbagi ide. Jelaskan tujuan dan keuntungan dari JSA kepada pekerja.

Observasi performa pekerja terhadap pekerjaan dan tulis langkah dasar JSA. Rekaman video pekerjaan dapat digunakan untuk peninjauan di masa mendatang. Pertanyakan langkah awal pekerjaan dilanjutkan langkah selanjutnya dan seterusnya.

C. Identifikasi Bahaya dan Potensi Kecelakaan Kerja

Tahap berikutnya untuk mengembangkan JSA adalah identifikasi semua bahaya termasuk dalam setiap langkah. Identifikasi semua bahaya baik yang diproduksi oleh lingkungan dan yang berhubungan dngan prosedur kerja.

Tanyakan pada diri masing-masing pertanyaan berikut untuk setiap tahap:

–          adakah bahaya mogok, akan mogok atau kontak yang berbahaya dengan objek pekerjaan?

–          Dapatkah pekerja memegang objek dengan aman?

–          Dapatkah gerakan mendorong, menarik, mengangkat, menekuk atau memutar yang dilakukan menyebabkan ketegangan?

–          Adakah potensi tergelincir atau tersandung?

–          Adakah bahaya jatuh ketika pekerja berada di tempat tinggi?

–          Dapatkah pekerja mencegah bahaya saar kontak dengan sumber listrik dan kontak putus?

–          Apakah lingkungan berbahaya bagi keselamatan dan kesehatan? Adakah konsentrasi gas beracun, asap, kabut, uap, debu, panas atau radiasi?

–          Adakah bahaya ledakan?

D. Mengembangkan Solusi

Langkah terakhir dalam JSA adalah mengembangkan prosedur kerja yang aman untuk mencegah kejadian atau potensi kecelakaan. Beberapa solusi yang mungkin dapat diterapkan:

–          Menemukan cara baru untuk suatu pekerjaan

–          Mengubah kondisi fisik yang menimbulkan bahaya.

–          Mengubah prosedur kerja,

–          Mengurangi frekuensi pekerjaan.

Poin utama dari job safety analysis adalah : mencegah kecelakaan dengan antisipasi dan eliminasi serta mengontrol bahaya yang ada.