68 Tahun Merdeka Negaraku, (Semoga) Jaya Negeriku!


Angka 68 sebentar lagi akan menghiasi sudut kota dengan diiringi banyaknya pemberitaan dari media massa. Bendera-bendera akan sibuk berkibar mengikuti arah angin. Setiap gang-gang ramai terpasang ornamen-ornamen unik. Benar, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tepat di tanggal 17 Agustus 2013 akan merayakan kemerdekaannya yang ke-68. Angka ini jika diibaratkan umur seorang manusia tentunya tidaklah muda lagi. Akan terlihat sesosok manusia yang sudah beruban dengan kerut wajah yang jelas. Cara jalannya pun tidak lagi tegap, butuh kekuatan ekstra untuk menopang beban tubuh yang kian renta. Kita pasti berharap Bangsa ini tidak seperti perumpamaan diatas. Namun, seperti yang terlihat, masih banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Bangsa ini, ingat, Bangsa yang dimaksud disini bukan hanya Pemerintah dan jajaran birokrasi dibawahnya namun juga seluruh masyarakat yang didompetnya terdapat Kartu Tanda Penduduk (KTP) tertulis Warga Negara Indonesia. Sudah terlalu banyak masalah yang dihadapi Bangsa Indonesia sampai dengan tulisan ini dibuat, sampai bingung memulai cerita dari mana.

Teringat sebuah buku yang pernah terbit ekslusif dan terbatas dengan judul, “ Soekarno, Pentjambung Lidah Raktjat” sebuah buku biografi satu-satunya Mantan Presiden Soekarno menuturkan sejarah hidupnya serta sejarah Bangsa ini secara langsung kepada seorang wartawati asal luar negeri kala itu. Mengapa justru seorang wartawati luar negeri? Kenapa bukan ajudan, para menteri atau jurnalis senior saat itu? Yah, beliau memang hanya mau diwawancarai oleh wanita tersebut karena kecantikannya yang memang telah memikatnya. Sebuah buku yang hanya bisa Anda temukan di Perpustakaan tua salah satunya di Museum Radyapustaka, Surakarta, Solo Jawa Tengah. Dibuku itu, beliau menceritakan secara detail, bagaimana kehidupan rumah tangganya, profesinya, penghasilannya, yang bahkan pada masa sulit-sulitnya saat itu, untuk menjamu secangkir teh kepada tamu yang datang, beliau tak ada uang sepeserpun, beruntunglah lewat seorang pencari berita kebetulan lewat didepan rumahnya, lalu beliau memanggil orang tersebut dan berkata ,” Maukah aku tuliskan sebuah berita namun engkau harus membayarnya dengan 30 rupiah?”. Orang itu menjawab,” Aku tidak ada uang sebanyak itu”. Sementara orang itu hendak pergi, beliau memanggilnya lagi sembari menurunkan harga,” Bagaimana jika 15 rupiah?”. Orang itu malah mempercepat langkahnya semakin jauh, lalu sampailah teriakan terakhir,” Bagaimana jika engkau ganti dengan secangkir teh dan sedikit peuyeum (tape) untuk tamuku ini?” Barulah orang tersebut berbalik badan dan menyetujui tawaran tersebut. Lima belas  menit berselang, jadilah berita tersebut dan tersajilah teh dan peuyeum diatas meja . Tak sulit bagi Beliau untuk menuliskan berita karena di kepala beliau memang penuh dengan pemikiran atas permasalahan di negeri ini. Beliau juga menjawab kontroversi yang berkembang dan bahkan menjadi sejarah sampai saat ini yaitu pengangkatan dirinya menjadi Presiden Republik Indonesia Seumur Hidup. Pemilihan Umum (Pemilu) yang seharusnya diadakan, malah justru ditiadakan. Pro dan kontra berkembang saat itu. Atas berbagai masukan, memang pada akhirnya, ir. Soekarno menjadi Presiden periode 1945 – 1966. Kalaupun Pemilu tetap dilangsungkan, memang siapa sosok yang akan menjadi pesaing ir. Soekarno yang notabene mampu menyatukan berbagai suku dan etnis di Indonesia? Logis memang. Demikian sedikit cerita yang jarang ada di biografi “ala Soekarno” lainnya.

Besok, negeri ini akan bersorak gembira dan dengan lantang rakyat akan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dimasing-masing tempat tinggalnya. Bangga? Pasti. Masih banyak hal baik yang bisa kita persembahkan untuk negeri ini. Tak perlu mengangkat senjata, belepotan darah bahkan menebusnya dengan nyawa kita. Tapi cukuplah dengan selalu mengingat sejarah (sejarah meninggalkan ilmu), menjaga apa yang telah dibangun, dan mempersiapkan diri untuk membangun negeri ini lebih baik dari berbagai bidang keilmuan dengan tentunya sembari memperbaiki akhlak budi pekerti. Selamat Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-68. Merdeka! Merdeka! Merdeka! (DKA).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: