Refleksi 130 Tahun Meletusnya Krakatau


Tepat 130 yang lalu, sebuah peristiwa besar menguncang dunia. Peristiwa yang kemudian menjadi catatan sejarah penting sampai saat ini. Bahkan konon katanya untuk memperingati peristiwa bersejarah tersebut, masyarakat yang mendiami Gunung Anak Krakatau (gunung dari bentukan akibat letusan) setiap tanggal 27 Agustus menyalakan sirine menandakan bahwa dahulu tempat yang mereka diami saat ini dulunya porak poranda, mencekam dan beberapa memprediksi saat itu dunia akan kiamat. Tak pernah disangka, beberapa waktu yang lalu kami mencoba mengenali salah satu keindahan alam Indonesia yakni Gunung Anak Krakatau dan memang saat itu tidak pernah terbersit dibenak kami seberapa dashyat letusan pada saat itu. Baru menyadari setelah kembali dari sana, kami mencoba mencari informasi mengenai sejarah tersebut dan tercengang ketika membacanya.

Sejarah perkembangan ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga tidak bisa lepas dari sebuah teori yang kebetulan memakai perumpamaan alam yakni Gunung. Yah benar, Iceberg Theory, yang biasa kita kenal dengan teori gunung es. Secara singkat teori gunung es menggambarkan bahwa suatu kasus memiliki prevalensi lebih besar dari apa yang terlihat secara kasat mata. Kita bisa contohkan angka kasus HIV/AIDS di Indonesia yang tercatat meningkat setiap tahunnya. Angka ini oleh sebagian orang dianggap sebagai sebuah kemunduran moral bangsa dan bidang kesehatan di Indonesia. Tapi justru sebagian orang menganggap angka ini justru sebuah pencapaian yang baik karena semakin banyak angka yang diperoleh artinya tenaga kesehatan, LSM dan organisasi lain yang peduli terhadap HIV/AIDS berhasil mengidentifikasi jumlah penderita sehingga dapat menekan penyebaran/penularan karena dari angka tersebut akan dilakukan tindakan preventif dan kuratif yang tepat.

Sama halnya dengan jumlah kasus kecelakaan kerja di Indonesia. Hampir sebagian besar perusahaan di Indonesia berlomba-lomba menutupi setiap kecelakaan kerja yang menimpa pekerjanya . Hal ini tak ubahnya untuk menjaga image perusahaan di dunia bisnis sekarang ini. Sebenarnya apa yang terjadi dikebanyakan proses produksi bisa ditekan sejauh mana sistem yang berkembang di perusahaan tersebut.  Kita bisa contohkan sebuah perusahaan Oil and Gas di daerah Dumai Provinsi Riau dimana berani menerapkan sistem K3 yang tegas dan tanpa pandang bulu, berlaku sama untuk semua level jabatan. Seperti yang dituturkan oleh dr.  Adang Bachtiar, MPH, DSc dalam sebuah seminar keilmuan di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), dalam kesempatannya memberikan paparan keilmuan di perusahaan tersebut beberapa waktu yang lalu. Beliau menuturkan, saat dijemput di bandara oleh salah satu mantan anak didiknya di UI (seorang istri salah satu karyawan perusahaan tersebut) mendapati betapa kagetnya beliau dengan cara mengemudi anak didiknya yang kebut-kebutan di jalan. Beliau memperkirakan si anak didiknya memacu mobil dengan kecepatan antara 80-100 km/jam. Ketika akan memasuki kawasan perusahaan tersebut, betapa herannya beliau saat mengetahui wanita tersebut menurunkan kecepatannya hanya dengan 20 km/jam. Karena penasaran beliau bertanya kepada wanita tersebut mengapa beda sekali apa yang dilakukan saat perjalanan dari Bandara dengan pada waktu akan memasuki kawasan perusahaan tersebut. Wanita itu menjawab bahwa sudah menjadi kewajiban setiap driver manapun atau siapapun harus memacu kendaraannya maksimal 20 km/jam. Dan diberlakukan sanksi apabila ada yang melanggar karena disetiap sudut tempat di kawasan tersebut dipasangi kamera pengintai (CCTV) dan hebatnya sanksi yang diberikan yaitu akan mengurangi poin kinerja yang dikumpulkan suaminya yang bekerja disitu untuk kenaikan jabatan dan gaji. Luar biasa! Kesalahan yang dilakukan orang lain akan berpengaruh langsung kepada orang yang bekerja di lingkup perusahaan, entah itu teman, saudara, ataupun keluarga si pekerja yang masuk ke kawasan tersebut.

Letusan Gunung Krakatau memberikan sebuah pengalaman yang baik untuk rakyat Indonesia bahwa keberanian untuk bangkit dari setiap peristiwa yang memporak-porandakan. Sekarang berkunjunglah ke Gunung Anak Krakatau, maka Anda akan melihat betapa indahnya alam yang berbeda 180 derajat dari kondisi 130 tahun yang lalu. Keberanian ini juga bisa menjadi modal untuk kita memperbaiki sistem di perusahaan masing-masing. Perlu waktu memang, namun bukan berarti kita hanya akan berdiam diri. Selamat kembali bekerja! (DKA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: